Tuesday, September 10, 2013

Bukan Cinta yang Bersalah

Assalamu'alaikum Wr. Wb



Sudah beberapa bulan ini Aku berusaha membangun feel untuk menuliskan sesuatu bertema cinta -anak labil. Tema yang dulu bersahabat erat dengan binder ku. Namun tema itu sempat cuti dari otakku, tepatnya setelah Aku berstatus single. Percaya ga percaya, single itu selain melepas status taken juga melepas kegalauan yang sering melanda. Semakin lama single, semakin lupa rasanya galau seperti apa. Haha ^^v

Special untuk tulisan kali ini, aku paksakan diri untuk mencari feel yang sempat hilang itu. Menelusuri jejak-jejak yang masih tertinggal, serta kenangan-kenangan yang belum sepenuhnya terhapus dari memori ingatan. Eitss jangan salah menafsirkan kalau Aku belum berhasil move on ya. Kembali bernostalgia untuk sepercik inspirasi aku rasa sah-sah saja.

Seperti yang pernah Aku bilang sebelumnya, rasa ketertarikan pada lawan jenis memang naluri alamiah dan hadir begitu saja. Tidak dapat direncana dan tidak dapat pula dipaksakan. Tapi ada beberapa situasi yang mungkin bisa buat kamu bertanya-tanya "KOK GUE BISA-BISANYA SUKA SAMA DIA?!"

Oke berikut Aku bahas beberapa contoh situasinya. Cekidot >>


Bagai pungguk merindukan bulan

Mungkin sebagian besar dari kamu pernah merasa tertarik pada seorang yang memiliki segala keistimewaan sedangkan kamu merasa kalo diri kamu serba apa adanya. Kamu yang hanya manusia biasa dengan kemampuan biasa, prestasi yang biasa-biasa aja, dan paras yang sangat biasa tertarik pada dia yang memiliki segudang prestasi, ditambah kepopulerannya sebagai kapten futsal yang sering dielu-elukan kaum wanita. Atau kamu yang pergi ke sekolahnya naik sepeda padahal temanmu lainnya dengan kendaraan bermotor tertarik pada dia yang penampilannya selalu update bak gadis sampul majalah remaja. Yang hobinya obral pesona dan gonta-ganti pacar semacam Taylor Swiff. Terus kalo udah kaya gitu yang terlintas dibenak kamu "Apa bisa seorang biasa menjadi pacar seorang superstar?" (udah kaya lagunya Project Pop)

Situasi seperti itu yang kadang bikin sebagian orang memakai topeng untuk menarik perhadian dia. Mulai dari merubah penampilan, gaya hidup sampai merubah kebiasaan juga. Poin plus kalo perubahannya melahirkan prestasi, tapi ga sedikit yang perubahannya malah menyusahkan orang tua. Helloooowww bisa kali bedain mana cinta mana obsesi. Cinta ga akan pernah menjadikanmu seperti orang lain.


Bagaikan makan buah simalakama

Pernah ga sih kamu suka atau sekedar tertarik sama sahabatmu sendiri? Atau bahkan sama sepupumu? (Nah loh kenapa sepupu ngikut si? | Iya nanti ikut dibahas juga). Sekedar mengingatkan, sahabat dan teman itu dua hal yang berbeda ya, jangan disamaratakan. Apalagi cuma temen sekelas. Eh. Kalo udah sampai terjebak lingkar friend zone, Aku yakin level kegalauanmu meningkat. Karena apa? Karena kamu lebih sering menghabiskan waktu dengan dia, sehingga kenanganmu bersama dia juga semakin berkualitas. Awalnya kamu memang hanya ngobrol bareng yang ujung-ujungnya jadi ngalor-ngidul terus dilanjut sms-an/ bbm-an/ line-an/ whatsApp-an sampe tengah malem. Saking intensnya komunikasi antara kamu dan dia, perlahan percikan-percikan cinta mulai menghiasi hati kamu. Senyumnya, banyolannya, tawanya, dan cara dia memperlakukanmu berubah menjadi suatu anugerah. Kamu jadi lebih memaknai setiap momen yang sedang/ sudah kamu lewati bersama, terngiang terus memenuhi penjuru otak. Dan ketika kamu sadar ada sesuatu yang ga biasa, kamu berubah jadi agak canggung alias kaku gimana gitu tiap kali berhadapan dengan dia. Efek dari jantung yang sedang marathon, mungkin.

Disaat seperti itu kamu dihantui pikiran-pikiran sok realistis. Membayangkan kamu dan dia bersatu merajut tali cinta ala Juminten dan Paijo namun khawatir bila  terjadi perpisahan ditengah rel, akankah persahabatan yang telah terjalin lebih dulu kan tetap abadi atau ikut terkubur bersama cinta. Atau ketika kamu lebih memilih kesucian persahabatan, dan membiarkan rasa tersebut mengumpat dalam dada. Padahal menurut informasi dari @infoLengkap, pernikahan dengan sahabat dapat mengurangi resiko perceraian hingga tujuh puluh persen.

Lha terus kalo family zone gimana?

Berdasarkan hasil penelusuran Aku beberapa waktu lalu, tidak ada yang salah menjalin hubungan dengan keluarga sendiri dengan catatan bukan mahrom (orang yang dilarang menikah dengan kita). Contoh mahrom seperti ibu, bapak, kakek, nenek, kakak, adik, tante/ om, keponakan, dan saudara sepersusuan. (Untuk lebih detailnya bisa cari info dari yang lebih berilmu). Saudara terdekat dan sudah tidak termasuk lingkup mahrom ya sepupu. Oleh karena itu, banyak ditemukan mereka yang menikah dengan sepupunya sendiri.

Untuk situasi seperti ini, mungkin kamu tak henti-henti bertanya pada hatimu "Dari tujuh miliar lebih manusia di dunia ini, kenapa pilihan tertuju pada dia yang notabene-nya sepupu?". Dilema-dilema itu muncul mengiringi langkah yang akan dipijak.

 
"Mencintai itu investasi. Kalo dari awal kamu tahu investasinya ga secure, kenapa masih nekat?" (Brili Agung Zaky Pradika)



Bila suara hatimu membisikkan tuk menutup lembaran tanpa akhir yang jelas, hanya ada satu langkah tuk bisa membuatmu melukiskannya lagi. Move on. Move on dari siapapun memang tidak ada yang mudah. Termasuk dari "selebriti hatimu", atau bahkan dari belenggu friend zone/ family zone. Semuanya membutuhkan ketegasan hati dan semangat juang empat lima. Keputusan untuk melanjutkan atau tidaknya ada di tangan kamu. Netralkan hatimu kemudian tanyakan baik-baik.



Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Mariani Yuni Susilo Wenti
@marianiyuniSW



No comments:

Post a Comment