Monday, September 2, 2013

Membebaskan Mimpi yang Tersandera

Assalamu'alaikum Wr. Wb

Bulan ini Aku berusaha menebus mimpiku untuk meneruskan study di jenjang Perguruan Tinggi. Mimpi yang harus tertunda setahun dari renca awalku.


Peristiwa itu berawal dari obrolonku dan kelurga. Kalau tidak salah saat aku mulai menginjak di tingkat XII atau kelas 12. Disela perbincangan, tak sengaja membahas masa depan. *Belum sampai topik yang lebih lanjut kok masih dalam hal pendidikan :P* Orang tuaku meminta Aku untuk bekerja terlebih dahulu. Alasannya sederhana, mereka katakan "Kamu kan sekolahnya SMK jadi kalo nyari kerja ga sesusah lulusan SMA." "Kalo tahun depan daftar dua -aku dan kembaranku- biaya dari mana nguliahin tiga-tiganya? Kamu sadar dong orang tuamu itu siapa" Tambahnya. 

Seketika perasaanku saat itu seperti kapal raksasa Titanic yang menabrak karang kemudian tenggelam. Hancur tertumbuk pilu -sederhananya begitu- . Mungkin terdengar agak sadis, Aku bahkan sempat merasa seperti dianaktirikan. Mereka diizinkan, mengapa Aku tidak? Apa Aku tidak layak menggenggam mimpiku?

Do'a orang tua memang terbukti mujarab. Beberapa bulan kemudian ketika di sekolahku diumumkan siapa yang lolos untuk mengikuti SNMPTN Undangan, namaku tidak terdaftar. Aku terheran-heran, begitu pula sahabat dan teman-temanku Kok bisa namaku tidak masuk daftar? Atau jangan-jangan namaku terlewat? Tanda tanya besar memenuhi pikiranku. Bukan Aku sombong, tapi sejak dulu Aku merupakan siswi yang cukup diperhitungkan dalam hal akademik, bahkan beberapa kali menjadi bintang kelas. Tapi Aku menyimpan rapat tanda tanya itu. Membiarkan hanya Aku, Tuhan dan malaikat yang tahu. Karena apa? Karena memang orang tuauku tidak merestui Aku tuk kuliah tahun itu. Tapi ternyata si mantan -saat itu statusnya pacar- tanpa sepengetahuanku menyelidki apa penyebabnya ke bagian kesiswaan. Dan dari sanalah aku mengetahui bahwa nilai akademik di semester lima ku menurun. Sedangkan syarat untuk bisa mengikuti SNMPTN Undangan nilai-nilai dari semester satu sampai 5 harus ada peningkatan, atau minimal konsisten.

Selang waktu beberapa bulan kemudian Aku resmi dinyatakan LULUS. Aku seperti orang tak punya arah. teman-temannku berusaha mencari universitas/ lowongan kerja, atau mempersiapkan diri untuk ujian SNMPTN Tulis beserta SBMPTN, sementara Aku hanya duduk manis menyaksikan serial televisi di rumah. Aku mencari lowongan pekerjaan hanya apabila teman atau guruku yang menginformasikan. 

Pernah wali kelasku menginformasikan lowongan pekerjaan di salah satu kantor notaris. Kutulis surat lamaran untuk yang pertama kali. Keesokan harinya diantar bapak, kudatangi tempat yang menawarkanku pekerjaan. Setelah survey ternyata bapakku kurang setuju. Karena lingkungan kantor tersebut berada di perumahan yang sepi ( khawatir bila terjadi sesuatu denganku di jalan sulit mencari bantuan)  dan jarak dari jalan raya sampai ke rumah kantor tersebut cukup jauh, sekitar 2 KM dan jarang ditemukan angkutan umum -maklum perumahan elit- Bisa dibayangkan Aku harus berjalan setiap hari menempuh jarak yang cukup panjang pulang dan pergi. Singkat cerita kesempatan itu kuberikan pada sahabatku. 

Setelah berbulan-bulan Aku berdiam di rumah, ( mungkin ) orang tuaku merasa 'gerah' hingga Ia melontarkn kalimat "Kamu mungkin ga malu , tapi mamahmu yang malu. Masa yang dari dulu diliat berprestasi, lulus sekolah malah nengkrem di rumah."

Ikhlas tidak ikhlas, Aku mulai berusaha mencari info lowongan dari internet ataupun koran. Sesekali menanyakan info pada teman. Pernah kukirimkan satu lamaran ke sebuah kantor di bekasi. Itu pun sudah menjelang hari raya Idul Fitri. "Semangat banget kamu, mau Lebaran begini kirim lamaran." Begitulah kalimat sang petugas yang menerima lamaranku. Masih terekam jelas di ingatanku. Aku hanya mampu membalas senyum dan tawa kecil pada petugas itu.

Usai lebaran, entah bagaimana kronologinya, om dan tanteku menelpon agar Aku mempersiapkan lamaran untuk diajukan ke kantor dimana Aku bekerja sekarang.Yaa itu memang kantor keluarga, dimana pemiliknya merupakan tante dari tanteku sendiri. Di tempat itulah Aku mengisi hari-hari kosong dan dari tempat itu juga Aku mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk lebih dekat dengan mimpiku. Dan sampai kuketik tulisan ini, aku masih bertahan di tempat itu. 

Dulu, terasa sakit memang menyaksikan kedua kakakku bertukar cerita mengenai lingkungan tempat mereka menimba ilmu, sesekali mengeluh karena tugas. Sedangkan Aku? Aku hanya bisa memasang telinga dan menahan perih teririsnya hati.

Namun kini, segala rasa sakit sedikit terobati. Aku menebus mimpiku yang sempat tersandera keadaan itu. Yaaaa walaupun belum berstatus resmi, tapi namaku sudah terdaftar menjadi MAHASISWI jurusan Matematika salah satu Perguruan Tinggi di Jakarta.

Bukan perjungan yang mudah tuk memerdekakan mimpi itu. Mengingat Aku harus bersabar menahan gejolak semangat tuk menyenyam pendidikan. Dan Aku juga harus kuat-kuat menapik bisikan syaitan-syaitan yang membuatku merasa ragu akan tulusnya kasih sayang kedua orang tuaku.

Dari situ aku mendapat suatu pelajaran hidup yang baru. Dimana perjuangan dan kegigihan tekad menjadi pondasi untuk mewujudkan mimpi dan harapan.


"Semakin besar impian yang kita miliki, semakin mahal harga dan ikhtiar yang harus kita tebus." ( Brili Agung Zaky Pradika )



Wassalamu'alaikum Wr.Wb


Mariani Yuni Susilo Wenti
@marianiyuniSW




No comments:

Post a Comment