Thursday, October 31, 2013

Perkara Hati

Bicara cinta memang tak pernah ditemukan akhir, selalu bersambung di pembahasan selanjutanya. Seluruh kata yang terurai seakan belum cukup mendeskripsikan maknanya. Namun tetap menjadi topik yang menarik perhatian.



Pada hakikatnya, cinta itu suci, fitrah, anugerah dari Sang Maha Pemberi. Namun ia memiliki dua sisi. Ia bisa jadi sumber kebahagiaan maupun kehancuran. Menjadi kebahagaian manakala menemukan cinta, dan ketika kehilangan cinta ia bisa membuat si subjek terluka.

Mereka yang sedang dilanda cinta, mungkin merasa bahwa mereka adalah makhluk paling bahagia yang diciptakan Sang Pencipta. Setiap detik yang mereka lalui selalu terselip senyum bahagia. Raut wajahnya berseri, terlihat lebih menawan.

Namun ada kalanya ketika seorang belum cukup 'mampu' mengontrol emosi, saat virus merah jambu (VMJ) menyerang, ia seperti kehilangan fokus atau konsentrasi. Celah akan terjadinya kesalahan atas sesuatu yang ia kerjakan semakin terbuka lebar. Pikirannya lebih terarah memikirkan si dia dibanding dengan apa yang ia lakukan. Tanpa disadari khayalan tentangnya menjadi kebiasaan baru yang dapat menghambat pencapaiannya. Bila sudah terjadi, hanya penyesalan yang tersisa. Bukan sesal karena jatuh cinta melainkan sesal belum bisa mendewasakan diri.

Fase tersebut memang kerap dialami. Tidak hanya mereka yang baru mengenal cinta melainkan mereka yang telah sering terjatuh dan kemudian bangkit lagi mencari pelabuhan baru.

Perihal cinta dan patah hati sebenarnya dua hal yang serupa namun tak sama. Perbedaanya terletak pada "packagingnya". Mereka yang jatuh cinta maupun patah hati keduanya dilanda rasa gundah gulana. Banyak pertanyaan yang menyita isi pikiran meereka. Pertanyaan paling mendasar ialah "apa si dia juga merasakan hal yang sama seperti aku?"

Ketika cinta yang diharapkan tak terbalas atau berkhianat, muncullah rasa kecewa yang terbalut perih. Kecewa karena usaha yang diperjuangkan hasilnya sia-sia dan waktu yang sebelumnya tersita untuk si dia tidak membuahkan hasil. Lebih dari semua itu adalah penyesalan karena membiarkan rasa yang ada tumbuh semakin dalam seakan menyatu dengan jiwa. Sulit untuk dipisahkan.


Tak jarang juga kita temui, ketika kekecewaan muncul banyak yang salah mengambil langkah. Mereka membiarkan dirinya terus-menerus tersiksa oleh kenangan dan kenyataan pahit hingga akhirnya depresi atau bahkan nekat mengakhiri hidupnya dengan jalan pintas.


"Jatuh cinta atau patah hati adalah fase dimana seorang dituntut untuk berfikir kritis dan realistis." (Mariani Yuni Susilo Wenti)


Teruntuk kamu-kamu para pembaca, harus disadari bawha hakikat untuk mencinta tak pernah luput dari kenyataan bahwa cinta tak selalu bersama. So, kalau kalian siap jatuh cinta, harus siap juga untuk patah hati.




Mariani Yuni Susilo Wenti
@marianiyuniSW




No comments:

Post a Comment