Wednesday, February 12, 2014

Dua Pasang Mata


Aku tak mampu mendeskripsikan perasaan ini. Kamu yang baru kukenal seumur jagung, dengan mudahnya mencuri perhatianku. Entah racun apa yang membuatmu begitu istimewa.

Masih kuingat awal pertemuan itu. Di dalam ruang yang cukup luas, dari sekian banyak pasang mata, namun tatapmu bermuara pada tatapku. Kau memandangku dalam-dalam dan kemudian kubalas tatapan itu. Seketika aku terhanyut di dalamnya. Ku nikmati aliran arus membawaku pergi. Tak ku lawan, tak ku halau,

Tatapmu bagai magic untukku. Aku terjebak  di dalamnya. Tak ingin lari. Tak ingin pergi. Tak ingin menyudahinya. Disana aku menemukan keteduhan dan kedamaian. Laksana rumah yang memberiku alasan tuk terus kembali. 

Tatapmu, syurga kecil bagiku.

Pandangan itu tak berhenti di pertemuan pertama, berlanjut hingga pertemuan setelahnya. Walau bibir tak pernah berucap bahkan menyapa pun tak berani, namun kedua pasang mata itu mampu menafsirkan maksud bibir yang terpenjara. Pada akhirnya waktu mengalahkan ego. Tatapan itu mampu menghadirkan senyum memesona. Membuatnya terlihat semakin sempurna.

Teruntuk pemilik tatapan magic itu, maafkan aku yang tak tahu diri. Mestinya tak kuhiraukan tatapan itu. Karena tak ingin aku menyakiti pemilik tatapan itu. Layaknya daun yang jatuh tak pernah membenci angin, aku juga tak menyesali takdir Tuhan yang telah mempertemukan kita.



Mariani Yuni Ssusilo Wenti
@marianiyuniSW

No comments:

Post a Comment