Wednesday, April 23, 2014

Fase Kedua

Teringat obrolan beberapa waktu lalu dengan teman kampus saat jam istirahat. Sambil menunggu pesanan datang sebagai kaum hawa ga luput dari cerita ngalor-ngidul yang ujung-ujungnya berubah menjadi obrolan serius. Menuju topik  pembahasan masa depan. Iya masa depan. Akan menjadi apa kita nanti?  Dengan siapa kita mengarungi sisa hidup ?


Terjadi  pro dan kontra diantara kami setelah aku dan bebera temanku memiliki rencana yang sama, kami berencana mengakhiri masa lajang diusia 23 tahun. Berbagai alasan menyeruak dari pihak pro maupun kontra.

Pihak kontra beragumen ingin meningkatkan kualitas hidup di dunia, membahagiakan orang tua mereka lebih dulu, sembari mengumpulkan modal untuk bekal mengarungi bahtera rumah tangga. Alasan yang masuk akal menurutku. Terpuji lagi mulia. Namun aku tetep teguh pada keputusanku. Mengakhiri masa lajang setelah urusan study ku selesai, walaupun belum menyandang status wisuda. *Biar saat wisuda suami ikut jadi pendamping, sweet banget kan haha*

Kenapa aku pilih usia 23?

Menurut aku usia 23 tahun waktu yang sangat wajar untuk memulai fase kedua kehidupan dunia. Tidak terlalu dini ataupun terlalu lanjut. Masa-masa calon orangtua masih mampu menemani  dan mendampingi sang anak bermain, menikmati masa kecilnya. Aku khawatir bila aku mengakhiri masa lajang di usia yang sudah tidak dibilang muda, aku tak lagi mampu menemani anak-anakku bermain, mengejarnya saat mereka berlari jauh.

Apa yang kalian rasa, bila anak kalian sedang asik bermain, berlarian, tapi kalian hanya mampu memerhatikannya dari jauh?

Saat fisik sudah terkalahkan oleh usia., tanda-tanda penuaan mulai berdatangan. Hingga akhirnya hanya menyisakan rintihan air mata. Kalian sebagai orang tua yang semestinya  mendampingi namun peran kalian digantikan oleh sosok lain.

Sebenarnya tidak hanya alasan tersebut, ada alasan-alasan lain yang mendorong aku untuk memulai lembaran hidup baru bersama seorang yang (insyaallah) akan menyempurnakan sebagian agamaku. Yaa walaupun sampai tulisan ini aku buat, aku masih konsisten menjomblo.  Tapi aku yakin Allah punya kejutan luar biasa jauh dari espektasi aku. Aamiin

Oke back to topic, alasanku memilih usia 23 untuk membangun kehidupan baru diantaranya:

1.    Rahim seorang wanita ada masa kadaluarsa.
Pernah denger kan cerita ibu-ibu yang lagi ngobrol, kalo sudah menginjak usia 40 tahun rawan bagi seorang wanita untuk mengandung atau melahirkan. Selain membahayakan sang anak, juga membahayakan keselamatan sang ibu.

2.   Tidak semuanya berjalan seperti apa yang kita inginkan
Manuasia berkehendak, tapi segala sesuatu Allah yang menentukan. Tidak semua pasangan yang telah menikah langsung dianugerahi calon momongan. Diluar sana banyak yang telah menikah bertahun-tahun bahkan puluhan tahun namun belum diberi titipan oleh Allah. Mereka masih harus menunggu. Bayangkan bila usia kalian saat menikah sudah tak dikatakan muda, dan Tuhan tidak langsung mempercayakan kalian untuk menganugerahi momongan?

3.   Ingin menjadi saksi hidup kesuksesan mereka
Rezeki, jodoh, dan maut memang di tangan Allah. Allah yang mengetahui kapan aku kan kembali ke kehidupan abadi.  Jikalau Allah mengizinkan, sebagai calon orang tua, aku berkeinginan untuk mengajarkan sang anak mengeja kata demi kata hingga mahir dalam berucap. Memperkenalkan huruf A-Z hingga mahir  membaca abjad.  Mengenalkan angka 0-9 hingga mahir berhitung. Dan juga memperkenalkan segala sesuatu yang ada di dunia. Mengantar mereka menuju gerbang masa depan. Gerbang kesuksesan. Aamiin.

4.   Pelabuhan cinta satu-satunya yang Allah restui
Sebagai manuasia normal wajar bila memiliki ketertarikan pada lawan jenisnya. Namun sebagai anak muda *cie anak muda haha* seringkali menghalalkan pacaran sebagai jalan pintas untuk melabuhkan rasa cinta. Padahal dengan tegas Allah melarang. Aku tulis ini bukan berarti aku suci atau sok suci. Aku akui dulu aku pernah melakukan kesalahan itu. Terbawa rona kehidupan muda-mudi. Lewat luka yang seakan menegurku, aku bersyuku akhirnya Allah menyadarkanku.

Seperti pada tulisan yang telah aku posting beberapa waktu lalu (Kala Cinta Menyapa Wanita) kita sebagai wanita bisa melampiaskan cinta yang belum halal dalam diam *diam-diam aku mendo’akanmu maksudnya haha canda*

Buat aku, hidup tak melulu perkara asmara, ada hal-hal lain yang harus aku perjuangkan. Soal asmara, ku pasrahkan pada Sang Maha Cinta. Biarkan Dia yang mencari pasangan paling pas untuk tulang rusuk ini. Tugasku, perbaiki diri menjadi wanita yang dicemburui bidadari syurga dan terus memanjatkan do’a. Yakinlah Allah akan memeluk setiap do’amu.


“Seburuk-buruknya laki-laki, Ia akan memilih wanita baik-baik untuk menjadi ibu dari anak-anaknya.” Anonim.


Kalau dihitung saat usiaku menginjak 23 tahun, bertepatan dengan selesainya kuliah aku, dengan catatan semua berjalan lancar.

Disetiap keputusan yang diambil, pasti melahirkan argumen-argumen dari berbagai pihak. Pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan kuhadapi nanti:

Terus gunanya lo kuliah apa, kalau udah lulus langsung nikah? | Niat saya kuliah untuk mencari ilmu. mencari bekal pengetahuan untuk diajarkan pada anak-anak saya kelak.

Malu kan kalau anak bertanya ini-itu tapi orangtuanya terlebih ibu (yang merupakan madrasah pertama seorang anak) tidak mampu menjawab pertanyaannya.

Terus kalo lo nikah, suami lo nanti belum tentu kasih izin loh buat berkarir, sia-sia dong kuliah? | Jawabannya masih sama seperti pertanyaan sebelumnya.

Dulu aku memang pernah mengininkan kelak akan menjadi wanita karir, namun seiring waktu keinginan itu pudar. Melalui perdebatan hati dan logika, aku mengambil keputusan untuk menjadi seorang ibu rumah tangga (atas restu suami). Tak peduli apa kata orang. Menjalani hidup sesuai kodrat wanita pada dasarnya. Mengurus anak, rumah, dan menjaga amanah suami.


Semua yang aku jabarkan adalah rencana. Bagaimana hasil akhirnya aku serahkan pada Dia sang pemilik hidup. Karena rencana manusia hanyalah sekadar rencana bila tanpa ridho dari Sang Kuasa. Harapku, semoga Allah, orangtua. dan semesta merestui itikadku.

Maha Istimewa Tuhan dengan segala anugerah menciptakan rasa cinta dan kasih kepada seluruh makhluknya.


Mariani Susilo Wenti
@marianiyuniSW 

No comments:

Post a Comment