Friday, May 16, 2014

Menanti atau Melepaskan

Tidak ada kata kebetulan dalam hidup. Setiap pertemuan merupakan kehendak dariNya. Pertemuanku denganmu dan sebaliknya  juga merupakan rangkaian takdir hidupku maupun hidupmu. Tuhan telah mempersiapkan skenario indah.

Semua yang datang mungkin akan pergi, namun tak berlaku untuk kenangan. Mereka bisa pergi meninggalkanmu, namun lembaran kenangannya ‘kan terus terekam. Melawan waktu yang terus melaju. Menyisakan cerita tentangmu, tentangku.

Untukmu, yang jika Tuhan kehendaki menjadi teman hidupku kelak …

Aku masih menyimpan rapi jejak kenangan yang kamu tinggalkan. Kenangan yang mungkin tak berarti untukmu namun begitu berharga bagiku. Kenangan yang aku harap menjadi bentuk keseriusanmu kelak. Sebuah pesan singkat yang kamu kirimkan beberapa tahun lalu, saat aku masih bersama dengan bagian masa laluku. Sebait lirik lagu Vulnerable dari Secondhand Serenade. FYI, sampai detik ini pesan singkat itu masih bertengger gagah dalam barisan kotak masuk. Jika kamu bertanya mengapa aku menyukai lagu tersebut, dan kujawab karena liriknya begitu menyentuh itu hanya alasan kesekian. Alasan utamanya karena kamu. Iya kamu.


Beberapa waktu sebelum pesan singkat indah itu mendarat di telepon genggamku, sempat terlintas sebuah pikiran yang entah apa namanya. Aku bertanya-tanya pada diri sendiri. Berulang kali. Pertanyaan yang tak berubah, “Mengapa bukan kamu yang menjadi teman hidupku? Mengapa kamu hanya menjadi seorang ‘teman’? Kamu yang memiliki segala yang aku butuhkan, kamu yang mampu melengkapi, kamu memberikan rasa nyaman, dan kamu yang membuatku merasa ada.”

Terdengar jahat memang bila mengingat posisiku saat itu. Aku masih berstatus sebagai wanita dari lelaki lain. Aku akui hatiku telah mendua. Kamu, yang telah mengisi hatiku. Sekuat hati aku mengabaikan pikiran liarku demi mempertahankan apa yang sudah aku miliki. Namun takdir berkata lain. Aku dan dia sama-sama menyerah. Dia taksanggup lagi mengahadapi kekhawatiranku yang menurutnya berlebihan. Dan wanita, mana yang kuat menahan resah berhari-hari tanpa kabar sedang lelakinya asyik menikmati dunianya, melupakan sementara kenyataan?  Dan disaat dia kembali pada kenyataan, seringkali terjadi perseteruan mengenai hal yang sama dan selalu tak menemukan titik terang.

Sesabar-sabarnya  seorang wanita, ia tak akan sanggup hidup berselimut rasa resah. Bila resah yang tercipta karena kurangnya kepercayaan, aku rasa tidak sepenuhnya benar. Wanita butuh perhatian. Cinta butuh pengorbanan waktu. Setidaknya menyempatkan sedikit waktu hanya untuk memberi kabar “Aku baik-baik saja, kamu yang tenang ya sama cowo lain.” Hahaha canda guys

Tapi jujur bukan karena kekurangan dari orang di masa lalauku lantas aku memilih kamu. Salah besar jika menganggapnya demikian. Seperti yang sudah aku sebutkan tadi, kamu yang memiliki segala yang aku butuhkan, kamu yang mampu melengkapi, kamu memberikan rasa nyaman, dan kamu yang membuatku merasa ada . Kalaupun semua itu salah, mungkinkah rasa itu terus bertahan hingga kini? Saat keakraban antara aku dan kamu seakan mulai memudar?

Setelah jarak tercipta, pernah aku mencoba tuk menjalani kehidupan baru tanpamu. Melepas bayangmu. Namun gagal. Seperti bernafas dengan mulut. Sama, namun sebenarnya berbeda. Hingga kini, aku belum bisa move on dari seorang yang bahkan tak pernah menjadi ‘apa-apa’. 


Seperti barisan-barisan kata, ia membutuhkan spasi untuk menjadikannya sebuah kalimat. Namun, bila spasi yang yang terbentang terlampau jauh, ia akan kembali ke bentuk awal, sekadar kata. (Mariani Yuni Susilo Wenti)


Untukmu, jika Tuhan kehendaki menjadi penyempurna agamaku kelak…

Aku tak ingin memakasa Tuhan menuruti keinginanku. Aku pasrahkan segala takdirku padaNya. Biar Tuhan yang memilihkan orang yang tepat ‘tuk menjadi pendampingku.

Aku disini yang berjuang dalam kesendirian dan kuharap kau pun demikian. Jikalau Tuhan menakdirkan kita bersama, ku tunggu kamu diujung penantian. Dan jikalau Tuhan memiliki rencana lain, ketahuilah selalu ada ruang di hati untuk orang-orang yang tak pernah bisa dimiliki.




Mariani Yuni Susilo Wenti

@marianiyuniSW

No comments:

Post a Comment