Friday, October 10, 2014

Ketulusan

Sumber : Path
Mungkin banyak di luar sana yang mengatakan bahwa mencintai tak berarti harus memiliki. Melihat ia bahagia walaupun tanpa kita adalah wujud ketulusan dalam mencinta. Tapi diluar sana tak seluruhnya meng-iya-kan. Bagaimana mungkin kia benar-benar tulus menerima orang yang didamba ternyata  lebih memilih orang lain?

Beberapa waktu lalu, aku pernah membaca sebuah nobel novel “Sepasang Kaos Kaki Hitam” buah karya Ariadi Ginting (@pudjanggalama). Yap kalian tidak akan menemukan novel tersebut berkeliaran di toko buku, karena novel tersebut memang tidak dikomersilkan. Aku mendapatkannya saat tengah asyik menjelajah social media twitter, aku menemukan subuah link. Langsung saja aku meng-klik link tersebut tanpa ragu. Ternyata link tersebut otomatis men-download. Novel tersebut berisi kisah yang menurutku cukup mengharukan. Tokoh Ari dan Mevally sesekali membuatku tak kuasa membendung air mata. Dengan santainya ia meluncur membasahi pipi. Ari berhasil menyembuhkan Meva dari penyakit kejiwaan non-suicidal self injury. Dan melalui filosofi catur, Ari perlahan-lahan membimbing  Meva merangkai mimpi-mimpi yang telah lama ia tinggalkan. 
Filosofi Kopi Ari

Hari demi hari banyak mereka habiskan berdua. Hingga pada suatu hari Ari merasa ada perasaan tak biasa pada Meva. Ia kembali teringat pertemuan pertamanya dengan wanita yang berhasil membuatnya menjadi budak cinta sejak pertemuan pertama. Meva —seorang gadis cantik yang slalu memakai kaos kaki berwarna hitam untuk menutupi bekas luka yang ia buat sendiri.

Sayangnya, Ari tidak memiliki cukup keberanian untuk menyatakan perasaannya pada Meva. Ia tidak ingin merusak persahabatan yang sudah terjalin dengan seorang gadis yang tinggal di seberang kamar kost-nya. Pernah ia mencoba megutarakan isi hatinya, namun Meva berpura-pura sedang mendengarkan lagu yang ia putar dengan menempelkan headset pada telinganya. Sejak kejadian itu, Ari tidak pernah mencoba lagi.

Ari dan Meva, dua insan manusia yang saling mencintai  namun mereka tidak akan bisa menyatu karena mereka “berbeda”. Ari yang berasal dari keluarga muslim kontra dengan Meva. Ari menyadari bahwa selama ini ia terlalu lama berdiri di garis abu-abu. Sampai akhirnya baik Ari maupun M
eva berusaha saling merelakan untuk menjemput kebahagiannya masing-masing.

Entah apa yang sedang direncanakan Tuhan, setelah empat tahun mereka tidak saling temu dan saling sapa, akhirnya mereka bisa duduk berdampingan membuka cerita masa lalu. Pada kesempatan itu lah mereka saling terbuka. Termasuk membuka rahasia tragedi headset. Mengutarakan apa yang selama ini tek terucap meski keadaan sudah tak lagi sama. Isak tangis diantara keduanya menjadi bumbu pertemuan mereka. Semburat merah seolah mengisyaraktan mereka untuk berpisah. Keduanya tak saling bertukar kontak. Membiarkan takdir Tuhan yang akan mempertemukan mereka kembali. Peristiwa itu pun sekaligus menjadi penutup cerita.


Di lain kesempaan, aku juga pernah menonton film Taiwan yang berjudul “You Are The Apple of My Eye”. Cerita yang tidak jauh berbeda tema tulisan saat ini, masih seputar ketulusan. Ko-Teng seorang siswa pemalas mendapat hukuman dari salah seorang guru karena melakukan maaf masturbasi di dalam kelas. Sebagai hukumannya Ko Teng harus mau pindah empat duduk di depan Shen Chia Yi, agar Chia Yi dapat mengawasinya dan memastikan ia menyimak setiap materi yang diberikan.

Suatu ketika Chia Yi lupa membawa buku pelajaran bahasa Inggris. Ia begitu panik karena guru yang dihadapinya terkenal tidak ber-peri-ke-siswa-an. Tiba-tiba Ko Teng yang duduk di depan Chia Yi memberikan bukunya untuk Chia Yi. Sehingga Ko Teng lah yang menerima hukuman dan harus meninggalkan kelas. Sebenarnya alasan Ko Teng memberikan buku tersebut selain karena kasihan melihat Chia Yi —siswi yang prestasisinya tidak diragukan lagi, juga sebagai cara agar ia bisa meninggalkan kelas. Chia Yi pun merasa bersalah. Untuk menebus kesalahannya, Chia Yi berusaha menghilangkan sifat malas yang melekat pada diri Ko Teng dengan memberikan latihan-latihan untuk ia kerjakan di rumah. Kegiatan itu yang tanpa disadari membuat hubungan diantara keduanya semak erat. Ko Teng pun menjawab tantangan Chia Yi dengan sangat mulus. Prestasinya perlahan-lahat meningkat.

Hingga suatu ketika Ko Teng menantang Chia Yi untuk ujian. Bila Ko Teng berhasil meraih nilai ujian yang lebih tinggi, Chia Yi harus mengikat rambutnya selama satu bulan. Sedangkan bila Chia Yi yang memperoleh nilai yang lebih tinggi Ko Teng harus merelakan rambutnya dipangkas. Hari yang ditunggu pun tiba. Hasil ujian pun menjawab siapa pemenang dari tantangan tersebut. Ternyata Ko Teng belum mampu mengalahi prestasi Chia Yi. Ko Teng pun menerjang hujan hanya untuk pergi  ke salon menepati jajinya. Walaupun Chia Yi berhasil memenangkan tantangan itu, ia malah menguncir rambutnya. Penampilan Chia Yi yang agak berbeda membuatnya terlihat lebih cantik. Sehingga membuat Ko Teng dan teman-temnanya terpesona. Waktu berjalan cepat. Tanpa terasa mereka sudah dinyatakan lulus dan siap melangkah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Suatu hari Chia Yi menelpon Ko Teng sambil menangis. Tanpa pikir panjang Ko Teng langsung menemi Chia Yi. Ternyata penyebab air matanya mengalir karena ia dinyatakan tidak lulus seleksi ujian masuk peguruan tinggi yang ia pilih karena saat tes seleksi ia dalam kondisi yang kurang sehat. Ko Teng pun berusaha membasuh kesedihannya.

Singkat cerita baik Ko Teng, Chia Yi, dan teman-temannya mengejar mimpinya di tempat yang mereka tuju. Sebelum Ko Teng dan Chia Yi berpisah untuk menimba ilmu, Ko Teng memberikan hadiah kepada Chia Yi sebagai kenang-kenangan berupa sebuah kaos.

Hari demi hari hubungan mereka semakin erat walupun jarak menjadi spasi diantara mereka. Hampir setiap malam Ko Teng menyempatkan waktu untuk sekadar menanyakan kabar Chia Yi. Ia rela sabar mengatre menunggu giliran telepon umum.

Saat liburan musim dingin mereka merencanakan untuk melakukan pertemuan. Mereka sangat menikmati pertemuan singkat itu. Seakan tidak ingin menyia-nyiakan setiap detik yang berlalu. Sebelum pertemuan berakhir, mereka menerbangkan sebuah balon udara, yang sisinya bertuliskan harapan-harapan mereka. Di sela peristiwa itu, dengan berani Ko Teng menyatakan perasaannya pada Chia Yi. Namun Ko Teng tidak ingin mendengar jawaban Chia Yi saat itu. Ia pesimis akan ditolak oleh Chia Yi, padahal Chia Yi juga memiliki perasaan yang sama dengannya. 
  
Suatu malam Ko Teng mengadakan pertandingan fisik dengan teman asramanya. Ia tidak lupa mengundang Chia Yi untuk melihat pertandigan tersebut. Chia Yi pun kaget melihat apa yang dilakukan Ko Teng. Chia Yi sangat marah. Ia menganggap apa yang dilakukan oleh Ko Teng sangat kekanak-kanakan dan tidak ada manfaatnya hanya melukai diri sendiri. Timbullah ketegangan diantara mereka hingga menyebabkan hubungan mereka merenggang.
Kabar merengggangnya hubungan Ko Teng dan Chia Yi cepat tercium oleh teman-teman Ko Teng yang sama-sama menyukuai Chia Yi. Mereka memanfaatkan situasi tersebut untuk menarik hati Chia Yi. A Ho —teman Ko Teng berhasil menjadi kekasih Chia Yi selama beberapa saat. Namun akhirnya harus berakhir karena Chia Yi tidak sungguh-sungguh mencintai A Ho.

Beberapa tahun kemudian, pada suatu malam terjadi gempa yang cukup dahsyat. Setelah gempa mereda, orang pertama yang Ko Teng hubungi ialah Chia Yi. Karena pusat gempa berada dekat lokasi Chia Yi. Perbincangan malam itu mereka manfaatkan untuk saling mengingat kenangan-kenangan yang masih tertinggal dalam ingatan. Peristiwa itu pun membuat keduanya kembali dekat.



Menuju akhir cerita, teman-teman Ko Teng bisa dikatakan sudah mencapai kesuksesannya masing-masing. Ada yang menjadi seorang komikus, manager dan lain sebagainya. Tiba-tiba ia mendapat sebuah pesan bahwa Chia Yi akan melangsungkan pernikahan dan Ko Teng lah orang pertama yang mendapat kabar itu. Ia mengahadiri acara pernikahan seorang yang sangat amat ia cintai dengan perasaan turut bahagia. Menurutnya “Ketika kamu benar-benar menyukai seorang wanita, dan melihat wanita itu dicintai oleh orang lain, maka hati kecil kamu akan berkata kamu pasti akan mendo’akan kebahagiaan untuk orang itu.”



Ko Teng beserta teman-temannya berkumpul memberikan ucapan selamat kepada Chia Yi dan suaminya. Di akhir cerita teman-teman Ko Teng meminta izin kepada mempelai pria untuk mencium Chia Yi sebagai salam perpisahan. Mempelai  pria memberikan syarat bahwa mereka harus mencimnya terlebih dahulu untuk bisa mencium Chia Yi. Langsungn saja Ko Teng menjawab syarat tersebut. Akhirnya cerita diakhiri dengan berhasilnya Ko Ten beserta teman-temannya mencium Chia Yi.

Dari dua cerita diatas aku mengambil pelajaran, bahwa sejatinya ketulusan dalam mencinta ialah seberapa besar kita mengontrol ego untuk merelakan kebahagian mereka yang kita cinta. Karena jika kita tetap menomorsatukan ego, bisa jadi bukan kebahagiaan yang didapat melainkan bumerang. Percayalah Tuhan memiliki rencana indah, jauh diluar apa yang bisa dijangkau manusia. Dan semesta tidak pernah tidur. Ia akan menadah setiap do'a yang menguap di udara kemudian mengemasnya dalam kata aamiin.

“Bahwa kadang hidup hanya seperti sebuah perjalanan di atas kereta. Kita bertemu dengan orang tak dikenal, berbincang, dan sesekali tertawa bersamanya. Lalu kita turun di stasiun masing-masing dan berpisah. Tapi cerita tidak pernah selesai di situ. Karena akan selalu ada kereta lain yang mengantar kita menuju perjalanan selanjutnya. Kita tidak pernah benar-benar berpisah.kita hanya sedang memilih kereta yang berbeda, yang mempertemukan kita dengan orang yang berbeda.” (Sepasang Kaos Kaki Hitam, hal. 690)



Mariani Yuni Susilo Wenti
@marianiyuniSW



1 comment:

  1. Kereen...

    Hati yang tulus akan membawa ketenangan jiwa.

    Mampir jg ya..
    Masih baru...
    http://hikmah-dalamkehidupan.blogspot.in/2014/10/yang-membedakan-antara-suka-dan-cinta.html

    ReplyDelete